Airmata bercucuran peluh terus bersimbahan. Ayah dan abangmu akan mencari kuburan tapi tak akan ada kafan untukmu. Tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah hanya matahari mengikuti memanggang luka yang semakin perih tanpa seorang pun peduli. Aku pun bertanya sambil berteriak pada diri benarkah ini terjadi di negeri kami? (Dikutip dari puisi “Kisah dari Negeri yang Menggigil” untuk adinda Khaerunisa karya penyair cilik Abdurahman Faiz)
Faiz dan kita memang tidak sedang bermimpi. Kisah pilu yang mengilhaminya menulis puisi tersebut terjadi di hari minggu 5 Juni 2005 lalu. Supriyono, seorang pemulung, harus menggendong jenazah Khaerunisa (putrinya yang berusia tiga tahun) menumpang kereta rel listrik jurusan Jakarta – Bogor karena tak mampu sewa mobil jenazah. Dia berniat memakamkan jenazah putrinya di Bogor karena tidak mampu membayar biaya pemakaman umum di Jakarta. Ketiadaan biaya untuk berobat di rumah sakit pula yang menyebabkan nyawa putrinya tidak terselamatkan.


