www.theindonesianinstitute.com

  • Pendaftaran
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Adinda Tenriangke Muchtar

Rumah Aspirasi (Dewan Perwakilan) Siapa?

E-mail Cetak PDF
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Setelah diserang dengan kritik terkait mandeknya Kasus Century, dana aspirasi, serta dana percepatan pembangunan daerah tertinggal, dana renovasi gedung DPR yang mencapai Rp 1,6 triliun, bahkan situs porno di DPR, DPR kembali dikritik. Tidak hanya terkait studi banding yang dilakukan ke beberapa negara, seperti Jerman, Perancis, dan Maroko, namun juga yang terkini adalah terkait prioritas DPR untuk mengajukan dana rumah aspirasi dalam APBN 2011 sebesar Rp 209 miliar pertahun.

Yang menjadi isu utama adalah (dan bukan untuk pertama kalinya) adalah ketidakpekaan DPR terhadap permasalahan yang tengah dialami rakyat dan isu polemik terkait kebijakan publik. Sebut saja, kenaikan harga bahan pokok, tarif dasar listrik, tarif tol, dipersenjatainya Satpol PP, berantakannya pendaftaran siswa baru SMA, pelecehan seksual di kendaraan umum, dan sebagainya.

Ketidakpekaan itu diperburuk oleh masalah kinerja DPR. Misalnya terkait absensi anggota DPR yang banyak membolos tanpa mekanisme sanksi yang tegas dan jelas maupun kebiasaan meninggalkan rapat dengan alasan yang tidak jelas. Belum lagi masalah fungsi legislasi yang lemah, di mana terbukti 67 UU dari DPR dinyatakan cacat hukum oleh Mahkamah Konstitusi. DPR juga baru menyelesaikan lima UU dari 70 RUU dalam Program Legislasi Nasional 2010 yang diprioritaskan.

Lebih jauh, hal ini diperburuk dengan Kasus Century yang masih belum tuntas, serta kekukuhan DPR untuk tetap melakukan studi banding ke luar negeri atas nama peningkatan kinerja DPR. Ketidakpekaan DPR juga makin diperburuk oleh perilaku anggota DPR, bahkan pimpinan DPR dalam menanggapi kritik publik.

 

Membaca Sekber Koalisi

E-mail Cetak PDF
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Penetapan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Koalisi Partai pendukung pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono akhir pekan, menggantikan peran koordinator Hatta Rajasa, telah mengundang polemik hangat. Terlebih, gerilya partai koalisi yang terkesan reaktif, jika tidak strategis, tepat beberap hari setelah Sri Mulyani diumumkan akan menjadi salah satu managing director di Bank Dunia.

Seperti gayung bersambut, Sekber Koalisi mencoba menunjukkan giginya, setelah sempat ‘redup’ dan terlihat tidak solid saat pergulatan di Panitia Khusus (Pansus) Century lalu. Momentum politik lain yang tertahan dan terkena dampak, bahkan sempat terbaca sebelum kasak-kusuk Sekber ini muncul adalah, soal upaya DPR untuk menindaklanjuti hasil kerja Pansus Century melalui hak menyatakan pendapat.

Bahkan di minggu yang sama, perwakilan Partai Golkar di DPR, Priyo Budi Santoso, juga sempat mengisyaratkan ‘melunaknya’ posisi Partai Golkar terkait upaya atau proses politik atas kasus Century ini. Tidak heran, jika ternyata hal ini dilanggengkan dan ditegaskan dengan penetapan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie sebagai Ketua Sekber Koalisi.

Ada beberapa hal menarik yang dapat dibaca dari Sekber Koalisi ini.

 

Pemborosan Cara Parlemen

E-mail Cetak PDF
Pengadaan komputer baru lengkap dengan printernya senilai 16 juta rupiah untuk 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2009-2014, yang berasal dari anggaran DPR 2009, kembali menambah kesan buruk DPR. DPR kembali menunjukkan ketidakpekaannya melalui pengadaan komputer baru tersebut. Masalah ketidakpekaan DPR dan tidak transparannya penganggaran dan pengalokasian anggaran DPR bukan hal baru. Beberapa kali DPR dikritik terkait masalah anggaran tersebut.

Sebelumnya, sudah ada rencana pemberian cendera mata untuk 550 anggota DPR periode 2004-2009 berupa cincin emas, renovasi ruangan anggota DPR, pembuatan pagar DPR, serta kenaikan tunjangan operasional DPR, yang masih terngiang dalam ingatan publik. Kini, DPR masih disorot, terutama dalam kaitannya dengan kinerja Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century berikut masalah etika (retorika dan komunikasi para anggota dan pemimpin Pansus) yang memprihatinkan dan tidak menunjukkan wajah parlemen yang profesional dan beretika. Belum lagi kinerja legislasi dan masalah prioritas program legislasi nasional (Prolegnas) 2010-2014 yang masih harus diemban dan menjadi tantangan tersendiri, baik dari sisi substansi, teknis, maupun kuantitas bagi DPR dan relevansinya dengan kepentingan rakyat.

 

Menguji Rencana Gencar Koalisi

E-mail Cetak PDF
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Hasil rekapitulasi manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mencakup sekitar 31,6 juta suara secara langsung maupun tidak langsung telah mengusik rencana dan geliat gencar partai-partai yang sudah sibuk bergerilya membangun strategi dan memburu koalisi untuk mendapatkan pasangan yang tepat sejak hasil tabulasi nasional dan hasil quick count lembaga-lembaga survey dilansir.

 

Polemik Rencana KPU untuk Akreditasi Lembaga Survei

E-mail Cetak PDF
Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Rencana Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengatur lembaga survei pemilu untuk melakukan akreditasi telah menuai pro dan kontra yang cukup kuat dan beragam, tidak hanya dari kalangan KPU sendiri, namun juga DPR (anggota dewan dari partai politik pendukung); serta pihak yang menolak seperti lembaga-lembaga survei yang tergabung dalam forum maupun asosiasi; serta partai politik pendukung, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

Pihak yang mendukung melihat akreditasi lembaga survei perlu untuk memastikan bahwa publik menerima informasi dari lembaga yang kapabilitasnya jelas dari lembaga survei yang kredibel dan akuntabel. Ada kekuatiran bahwa lembaga survei cenderung mempublikasikan hasil surveinya secara membahayakan karena hanya didasarkan oleh faktor profit lewat permintaan pemesan survei agar hasil survei diarahkan (menonjolkan) kepada pemesan survei terkait. Bukan tidak mungkin, survei seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (metodologis).

 

Selain itu, hasil survei yang dipublikasikan juga dinilai rentan mengundang konflik, terutama di antara para pendukung kandidat pemilu atau pilkada misalnya, dan mengarahkan pilihan publik, terutama terkait dengan survei yang dilakukan sebelum pemilihan. Kekuatiran pun dikuatkan lebih jauh oleh faktor konflik yang rentan ditimbulkan oleh karena hasil survei yang direkayasa sedemikian rupa untuk mengikuti permintaan pemesan survei.

 

Sementara itu, pihak yang menolak keras dan tegas, diantaranya Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) dan Forum Peneliti Opini Publik (FPOP), yang menilai bahwa rencana KPU tersebut sebagai bentuk intervensi KPU yang terlalu jauh tidak hanya terhadap kegiatan lembaga, namun juga lembaga survei terkait. KPU juga dinilai tidak kompeten dan relevan untuk menjadi pengatur lembaga survei karena KPU bukan lembaga yang otoritatif untuk itu.

 
Halaman 1 dari 2
You are here: Home Publikasi Artikel Opini Adinda Tenriangke Muchtar