| By Hanta Yuda,
on 09-02-2009 00:00
|
Views : 1102 |
Oleh: Hanta Yuda AR, Analis Politik dan Peneliti di The Indonesian Institute
Opini Media Indonesia. Kamis, 25 Januari 2007
Sinyal kuat sudah ditiup oleh Hadi Utomo, Ketua Umum DPP Partai Demokrat dalam pidato pembukaan rapimnas, bahwa Partai Demokrat secara perlahan akan melepaskan diri dari bayang-bayang ketua Dewan Pembina Partai sekaligus Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Partai Demokrat akan berusaha agar tidak terus bergantung pada Yudhoyono, tetapi kinerja pemerintah akan menjadi taruhan bagi masa depan Partai Demokrat. Pernyataan ini menguatkan bahwa bobot politik Yudhoyono jauh melebihi Partai Demokrat, dengan kata lain popularitas Partai Demokrat amat tergantung dari figur Yudhoyono.
Sekilas dua pernyataan itu bermakna rancu, karena disatu sisi ingin lepas dari pengaruh Yudhoyono, tetapi di sisi lain kinerja pemerintah (Yudhoyono) tetap menjadi andalan sekaligus jualan politik bagi Partai Demokrat.
Posisi politik dan pengaruh Yudhoyono di Partai Demokrat akan menentukan corak relasi antara keduanya. Sekali lagi,kesannya Partai Demokrat didirikan dan memposisi diri hanya sebagai kendaraan politik bagi Yudhoyono untuk menuju Istana Negara. Sehingga sangat mungkin Demokrat akan terus terpersonalisasi oleh figur dan popularitas Yudhoyono.
Jika hal itu benar, maka kesan seperti ini berbahaya karena siapa pun yang percaya dengan demokrasi akan tahu bahwa partai adalah instrumen utama demokrasi modern. Salah satu fungsi partai memang sebagai rekrutmen pejabat/pemimpin publik, termasuk presiden.
Namun, masih ada fungsi lain yang sama pentingnya, yaitu fungsi artikulasi dan agregasi kepentingan masyarakat, mengelola dan melembagakan konflik politik, dan melakukan pendidikan politik bagi rakyat. Tiga fungsi yang disebut terakhir ini merupakan paket fungsi utama dan wajib yang harus dilakukan oleh sebuah partai politik dan siapa pun yang mendirikan partai politik.
SBY dan Partai Demokrat
Kita mengenal tiga istilah model relasi antar makhluk hidup dalam ilmu biologi. Pertama, hubungan yang saling menguntungkan antara keduanya (simbiosis mutualisme). kedua, yang satu diuntungkan, sedangkan yang lain tidak diuntungkan dan juga tidak dirugikan (simbiosis komensialisme). Ketiga, yang satu diuntungkan, sedangkan yang lain dirugikan (simbiosis parasitisme). Hal ini juga beraku dalam model relasi dalam politiok. Dengan menggunakan analogi pola relasi ini, termasuk yang manakah relasi antara SBY dan Partai Demokrat?
Partai Demokrat memang didirikan lebih diorientasikan sebagai kendaraan politik Yudhoyono untuk maju dalam pertarungan pemilihan presiden 2004, ketimbang sebagai manifesto dari sebuah persamaan cita-cita ideologi politik layaknya partai modern.
Itupun disebabkan UU pemilu mengharuskan semua calon presiden harus diusulkan oleh patai politik. Pada kondisi inilah Partai Demokrat dibutuhkan keberadaannya oleh Yudhoyono sebagai kendaraan pada pemilu 2004.
Seandainya, calon independen diperbolehkan oleh UU untuk bertarung dalam pilpres lalu, sangat mungkin Yudhoyono tampil tanpa partai, sebab popularitasnya saat itu melebihi partai politik. Jika konstruksi konstitusi memperbolehkan calon independen, maka bisa saja Partai Demokrat tidak pernah ada.
Pola relasi Yudhoyono dan Partai Demokrat pada masa itu merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Yudhoyono membutuhkan Partai Demokrat sebagai kendaraan politik untuk maju dalam pemilihan presiden, sementara Partai Demokrat membutuhkan popularitas Yudhoyono sebagai ”jualan politk” pada pemilu legislatif. Sampai di sisni, kita dapat menarik kesimpulan bahwa hubungan antara Yudhoyono dan Partai Demokrat adalah sebuah konstruksi relasi politik yang saling menguntungkan (mutualisme politik).
Pasca-Pemilu 2004
Perjalanan politik selanjutnya, pada masa pemerintahan berjalan, sesuai sistem pemerintahan jelas Yudhoyono sebagai presiden membutuhkan dukungan politik dari partai politik melalui parlemen. Karena sistem pemerintahan pada hakikatnya merupakan relasi antara kekuasaan eksekutif (presiden) dan parlemen (DPR), maka stabilitas pemerintahan dan posisi politik Presiden Yudhoyono sangat membutuhkan dukungan mayoritas koalisi parpol di DPR.
Saat in, Presiden Yudhoyono disukung oleh koalisi partai yang menguasai 73 % kursi di DPR. persen kursi di DPR. Jika berdasarkan parpol yang bergabung di kabinet, maka koalisi pemerintah saat ini terdiri dari Partai Demokrat (57), Partai Golkar (129) PPP (58), PAN (53), PKB (52), PKS (45), dan PBB. Sementara itu, partai oposisi, dalam hal ini PDIP hanya memiliki 109 kursi milik PDIP atau sekitar 20 % dari total kursi di DPR.
Tetapi di balik besarnya koalisi yang mendukung Yudhoyono, kekuatan Partai Demokrat tidak signifikan, ia hanya 57 kursi dari 405 kursi kekuatan koalisi di DPR, tidak terlalu signifikan. Kalaupun hal yang paling ekstrim terjadi, Partai Demokrat keluar dari koalisi dan menjadi partai oposisi tetap tidak akan mengganggu stabilitas posisi politik SBY.
Sampai di sini, kembali menguatkan bahwa Partai Demokrat lebih membutuhkan figur Yudhoyono, ketimbang kebutuhan Yudhoyono terhadap dukungan politik Partai Demokrat. Jika pola relasi ini yang berlaku, maka sebenarnya saat ini sedang berlangsung sebuah pola simbiosis komersialisme politik, posisi Yudhoyono sangat menguntungkan bagi keberlangsungan partai Demokrat, sementara Yudhoyono tidak mendapatkan keuntungan yang terlalu signifikan dari posisi Partai Demokrat.
Pemilu Presiden 2009
Walupun Yudhoyono relatif tidak terlalu memerlukan posisi politik Partai Demokrat yang kuat sebagai kaki politik Yudhoyono di parlemen sekarang ini, tetapi Yudhoyono sangat membutuhkan Partai Demokrat untuk menghadapi konstelasi politik 2009.
Untuk kepentingan kendaraan politik Yudhoyono kembali bertarung dalam pilpres 2009, dan kebutuhan Partai Demokrat terhadap popolaritas dan pesona SBY sebagai “jualan politik” pada pemilu legislatif 2009, maka relasi politik antara Partai Demokrat dan Yudhoyono saling menguntungkan (simbiosis mutualisme politik). Jika ini yang terjadi, kembali menguatkan kesan bahwa Partai Demokrat merupakan partai yang bersifat pragmatis dan hanya sebagai kendaraan politik bagi Yuhoyono kembali menuju Istana Negara.
Masa Depan Partai Demokrat
Agar tidak terkesan hanya sebagai partai yang pragmatis, maka untuk masa depan partai, Partai Demokrat harus berusaha melepaskan diri dari ketergantungan secara politik terhadap figuritas dan personalisasi Yudhoyono. Partai Demokrat harus berusaha secara perlahan keluar dari personalisasi politik Yudhoyono.
Personalisasi poltik dan oligarki elit politik merupakan salah satu penyakit yang menjalar dalam hampir semua parpol di Indonesia. Refrormasi partai poltik menjadi salah satu prasyarat bagi kemajuan demokrasi di Indonesia. Karena partai politik merupakan pilar utama bagi demokrasi.
Agenda utama yang lain yang sangat penting bagi masa depan Partai Demokrat, setidaknya dapat segera memikirkan basis massa ideologis yang belum jelas hingga saat ini. Dibandingkan dengan PKB, PAN, PDIP yang memiliki basis massa ideologis, Partai Demokrat termasuk salah satu partai yang tidak jelas personifikasi basis massa pendukung yang ideologis seperti apa.
Sehingga untuk menjadi partai modern, maka Partai Demokrat harus mengakar ke basis massa rakyat, menjadi partai kader yang mengakar (rooting party) tidak kalah penting dibandingkan dengan mengandalkan popularitas Yudhoyono.
Demokrat harus berusaha secara mandiri membesarkan dirinya, ketimbang hanya mengandalkan popularitas dan kinerja Yudhoyono, sebaliknya, agar Presiden Yudhoyono fokus dan mengutamakan menjalankan amanah rakyat demi kepentingan bangsa yang lebih besar ketimbang kepentingan membesarkan Partai Demokrat untuk pemilu yang akan datang. Sebagai Presiden, Yudhoyono juga harus berdiri di atas semua partai politik.
Partai Demokrat adalah baju kecil bagi Yudhoyono, sementara bagi Partai Demokrat Yudhoyono adalah baju yang besar dan menarik, tetapi tak tahan lama dan awet. Jika partai Demokrat hanya mengandalkan popularitas Yudhoyono, dan menjadikan kinerja pemerintah (presiden) sebagai taruhan atau “jualan politik”, maka sebenarnya Demokrat sedang menggali kuburanya sendiri, sembari menunggu habisnya nafas buatan dari popularitas Yudhoyono. Dan bersiaplah menjadi partai masa lalu dalam sejarah politik Indonesia.
|