| By Suara Karya Online,
on 31-05-2008 00:00
|
Views : 867 |
JAKARTA (Suara Karya): Naik turunnya popularitas Partai Golkar sangat bergantung pada kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Untuk itu, Partai Golkar disarankan keluar dari bayang-bayang pemerintahan dengan melaksanakan program kerja di daerah-daerah. Di samping itu, masih cukup waktu bagi Partai Golkar untuk meningkatkan popularitasnya menghadapi Pemilu 2009.
Demikian hasil kajian dan rekomendasi The Indonesian Institute (TII) yang tertuang dalam "kajian meta-analisis TII untuk mengantarkan Partai Golkar mempertahankan kemenangan dan mendulang suara mayoritas di Pemilu 2009" yang disampaikan Direktur Eksekutif TII Anies Baswedan, di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat (30/5).
Acara yang diselenggarakan Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPP Partai Golkar itu juga dihadiri Ketua Harian Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar, dan Ketua LPP DPP Partai Golkar Awal Kusumah.
Anies mengatakan, posisi Partai Golkar akan sangat berpengaruh terhadap hasil kinerja pemerintah saat ini. "Bila dilihat dari konteks secara nasional, maju mundurnya Partai Golkar tidak bisa dipisahkan dari bayang-bayang kinerja pemerintah," ujarnya.
Karena itu, agar popularitas Partai Golkar dapat naik kembali, hendaknya Partai Golkar tidak secara terus-menerus membuat program kerja di tingkat nasional.
"Apabila hal itu tetap dilakukan, Partai Golkar akan mengalami kesulitan atau akan terus terperangkap dalam bayang-bayang kegagalan pemerintahan," katanya.
Partai Golkar harus bisa memberdayakan posisi para eksekutifnya yang ada di daerah untuk memenangi Pemilu 2009. Partai Golkar jangan bertumpu pada politik di tingkat nasional.
Kalaupun apa yang dihasilkan lembaga-lembaga survei independen yang menyatakan bahwa popularitas Partai Golkar saat ini mengalami penurunan, hal itu, kata Anies yang juga Rektor Universitas Paramadina ini, jangan terlalu dibesar-besarkan.
"Waktu untuk menaikkan kembali popularitas Partai Golkar masih cukup panjang. Masih ada kesempatan bagi Partai Golkar memenuhi targetnya untuk menang di Pemilu 2009. Waktu yang masih panjang inilah yang harus dicermati oleh Partai Golkar," ujarnya.
Selain memaksimalkan jejaring kader di daerah, rekomendasi TII untuk Partai Golkar dalam persiapan Pemilu 2009 lainnya adalah, strategi rekrutmen keluarga pegawai negeri sipil (PNS), merangkul keluarga Soeharto, strategi koalisi untuk memenangi pilkada, kaderisasi berbasis spirit kewirausahaan, kuota anak muda untuk caleg di Pemilu 2009, serta pemberdayaan kader perempuan.
Anies juga menambahkan, konsistensi Partai Golkar dalam menggunakan strategi partai tengah (catch-all) lewat program-program strategis pragmatis dalam setiap pemilu serta kekuatan pengaruh dan jaringan partai, baik di eksekutif, yudikatif, maupun masyarakat, menjadi modal potensial bagi Partai Golkar dalam berkompetisi pada Pemilu 2009.
Khusus untuk strategi kampanye dan pemenangan, Anies mengatakan Partai Golkar harus memiliki strategi baru untuk memenangi pemilu dengan kondisi birokrasi (PNS) dan TNI-Polri yang netral, yaitu melalui jalur yang tidak resmi.
"Jika masih menggunakan jalur resmi, birokrasi justru akan menjadi ancaman bagi Partai Golkar di Pemilu 2009. Penggarapan politik bagi PNS dan keluarganya dapat dilakukan oleh Partai Golkar. Jalur penggarapan tidak resmi inilah yang menjadi kelihaian Partai Golkar dengan pengalaman politiknya selama 32 tahun," ucapnya.
Kajian meta-analisis yang dilakukan TII, kata Anies, juga menemukan adanya faksi-faksi dalam Partai Golkar yang semakin mengemuka dan pada gilirannya akan dapat mengancam soliditas partai yang dapat menempatkan Partai Golkar dalam kondisi yang rentan mengalami perpecahan dalam menghadapi Pemilu 2009.
"Faksionalisasi elite kepemimpinan juga akan berimbas terhadap pola rekrutmen dan alur kaderisasi di bawahnya," kata Anies. |
|
|
| Users' Comments |
|
Average user rating
|
|
Add your comment
|